28 Julai 2010
METODE MEMAHAMI ISLAM
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 00:00 0 komentar
Label: Tsaqofah
20 Mei 2010
BAROMETER
BAROMETER
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 18:29 0 komentar
Label: Tsaqofah
04 April 2010
Maulid Nabi Sesuai Sunnah
Maulid Nabi Sesuai Sunnah
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 12:43 0 komentar
Label: Tsaqofah
23 Februari 2010
Problematika Kalender Hijriyah
Problematika Kalender Hijriyah
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 09:57 0 komentar
Label: Tsaqofah
21 Februari 2010
Selamat Datang Bencana
Selamat Datang Bencana
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 12:31 1 komentar
Label: Tsaqofah
20 Februari 2010
JANGAN MENCURI
JANGAN MENCURI
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 12:53 0 komentar
Label: Tsaqofah
19 Februari 2010
PELARIAN
PELARIAN
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 10:53 0 komentar
Label: Tsaqofah
Kita Semua Adalah HAKIM
عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ وَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ وَاثْنَانِ فِي النَّارِ فَأَمَّا الَّذِي فِي الْجَنَّةِ فَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَجَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ
Dari Ibnu Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Hakim itu ada tiga (golongan), satu golongan masuk sorga, dan dua golongan masuk neraka :
- Adapun yang bakal masuk sorga adalah, seseorang yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengan dilandasi kebenaran itu.
- Seseorang yang mengetahui kebenaran namun ia mengabaikannya dalam menghukumi, maka ia bakal masuk neraka.
- Seseorang yang memutuskan perkara kepada manusia atas dasar ketidak tahuaannya, maka ia termasuk penghuni neraka. (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dari lahiriyah lafaz hadits dapat diketahui, bahwa barangsiapa yang memutuskan dengan dasar ketidak tahuan, walaupun ternyata keputusannya itu tepat sesuai kebenaran, maka tetap saja ia calon penghuni neraka. Ini berdasar pada kemutlakan lafaz hadits: “Seseorang yang memutuskan perkara atas dasar ketidak tahuaannya, maka ia termasuk penghuni neraka” (‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud).
Dari hadits tersebut, dapat kita ketahui intinya, bahwa seorang hakim harus memutuskan perkara dengan dilandasi oleh pengetahuan.
Secara umum, Allah juga telah mengingatkan agar kita tidak mengikuti kecuali apa yang telah kita ketahui :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Al-Israa`: 36)
Sangat jelas, bahwa hadits tersebut tidak hanya berlaku khusus buat hakim semata, namun secara umum juga berlaku buat kita.
Hakim Bagi Diri Sendiri
Hidup adalah pilihan. Allah sudah memberikan kita potensi, baik untuk mengikuti yang benar ataupun untuk menyimpang. Allah berfirman:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya”. (Q.S. Asy-Syams: 8)
Allah dan Rasul-Nya pun telah memberikan bimbingan melalui Al-Qur`an dan As-Sunnah agar kita tidak salah jalan. Rasulullah bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Telah ku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya (H.R. Malik).
Tidak pernah kurang pula pemberi peringatan di tengah-tengah kita yang selalu mengingatkan kita, sehingga tidak ada alasan bagi kita bahwa dakwah belum sampai kepada kita.
Sekarang tinggal kita yang memutuskan untuk diri kita sendiri:
- Apakah kita mau belajar untuk mengetahuinya dan kemudian memutuskan (mengamabil sikap) sesuai dengan kebenaran ilmu tersebut.
- Ataukah kita sebenarnya mengetahuinya, hanya saja kita tidak mau tahu
- Atau kita sama sekali tidak mau tahu dan berbuat semau kita
Hakim bagi diri sendiri artinya kita sebagai orang yang sudah balig dan berakal yang memutuskan untuk diri kita sendiri apa yang terbaik berdasar segala pertimbangan yang matang dilandasi ilmu, kita yang meng-eksikusi keputusan tersebut dengan melaksanakannya, dan kita pula yang mempertanggung-jawabkan keputusan dan eksekusi tersebut kepada Allah dan masyarakat.
Hakim Bagi Saudara se-Muslim
Dalam Pengadilan Agama di Indonesia, apabila terjadi sengketa, hakim biasanya selalu menawarkan solusi damai dengan musyawarah mufakat sebagai alternative pertama. Bahkan persidangan akan ditunda beberapa kali sekedar memberikan kesempatan kepada pihak-pihak bertikai untuk menyelesaikan kasus secara damai.
Demikianlah sebenarnya ajaran Islam, dan hal ini tidak hanya berlaku dalam persidangan perkara perdata, namun juga berlaku bagi kita kaum Muslimin secara umum. Allah berfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujuraat: 10)
Diantara saudara kita boleh jadi ada yang punya masalah dengan temannya lalu curhat kepada kita. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Di sini sangat diperlukan kedewasaan sikap, karena kita sedang menjadi hakim bagi saudara kita.
Curhat ada beberapa macam.
Baik curhatan itu sekedar menumpahkan perasaan ataupun disertai minta saran, kita harus berupaya mendamaikan pertikaian itu. Jangan pernah memberikan saran atau arahan yang tidak diperlukan yang justru akan memperkeruh keadaan, apalagi sampai menjadi “kompor” bagi temannya sendiri. Arahan yang diberikan justru bagaimana agar dua saudara yang sedang bertikai itu bisa berdamai sebagaimana telah diamanatkan oleh Al-Qur`an, jika tidak mampu maka lebih baik diam dan jadi pendengar yang baik.
Namun bila kita memang ingin membantu dengan saran yang akan menghasilkan keputusan sikap, maka alangkah baiknya jika mengetahui permasalahan dari kedua belah pihak sehingga tahu duduk persoalannya dan bisa memberikan saran terbaik bagi keduanya.
َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ فَقَالَ الَّذِي شَرَى الأَرْضَ إِنَّمَا بِعْتُكَ الأَرْضَ وَمَا فِيهَا قَالَ فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ أَلَكُمَا وَلَدٌ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِي غُلامٌ وَقَالَ الآخَرُ لِي جَارِيَةٌ قَالَ أَنْكِحُوا الْغُلامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِكُمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا
Rasulullah SAW. Bersabda: “
Pertikaian itu justru menyatukan mereka jadi satu keluarga, melalui sebuah saran yang begitu bijak, karena si pemberi saran tahu duduk persoalannya dan dia benar-benar orang yang bijak.
Sebagai hakim, sudah semestinya bertindak adil. Seorang yang curhat karena punya permasalahan dengan orang lain biasanya disertai emosi yang meledak-ledak dan merasa bahwa dirinyalah yang benar. Biasanya juga “minta pembenaran” dari sang teman yang dicurhati. Bila seketika itu juga ditegur biasanya timbul komentar: “Koq elu malah belain dia sih!”.
Menenangkan itu perlu, agar emosinya reda sehingga siap menerima masukan. Namun rasa keadilan juga harus ada. Setelah mendengar duduk persoalan didengar dari kedua belah fihak, baru bisa disimpulkan di mana letak permaslahannya sehingga bisa memberikan masukan, tidak hanya kepada yang curhat (penggugat), tapi juga kepada saudaranya yang lain (tergugat)
Lebih parah kalau yang dicurhatin justru turut termakan emosi, maka sudah dapat dipastikan saran yang diberikannya justru ibarat menyiram api dengan minyak. Rasulullah telah menyarankan aga jangan memberikan keputusan terhadap dua orang yang berselisih dalam kondisi marah:
لا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ
“Janganlah seorang hakim itu memberikan keputusan kepada dua orang (yang bertikai) sedangkan ia dalam keadaan marah” (H.R. Bukhari, Muslim, dll)
Ditengah ketidak pastian hukum di Indonesia serta maraknya teriakan-teriakan agar hakim bersikap adil, maka marilah hal tersebut kita jadikan cermin buat diri kita sendiri, sudahkah kita sendiri menjadi “hakim” yang baik bagi diri kita sendiri serta saudara kita se-muslim.
Kita Semua Adalah HAKIM
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 10:40 0 komentar
Label: Tsaqofah
14 Januari 2010
BAHAGIA
Seseorang yang pernah pernah berkata: “saya ingin menikah dengan orang yang bisa membahagiakan saya”. Ada juga seorang sahabat FB yang bikin status: “ditahun yang baru, hanya satu hal yang ku pinta: kebahagiaan...”
Dalam salah satu status FB seorang teman, ada yang berkomentar: “Di mana letak bahagia itu?”.
Ketika ada pertanyaan di Yahoo Answer tentang apa sih yang kita cari dalam hidup ini? Saya cenderung menjawab: “bahagia”. Karena pada kenyataannya memang demikian, walaupun mungkin jarang ada yang menyadarinya atau mengakuinya. Orang ingin bahagia, tidak ingin sengsara. Orang ingin bahagia, tidak ingin hidup resah. Orang ingin bahagia, tidak ingin hidup penuh gundah.
Untuk menghindari kegelisahan dan kegundahan hidup, tidak jarang orang mengambil jalan pintas dengan mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba. Untuk sesaat, kegelisahan dan kesengsaraan hidup yang mereka rasakan memang sirna, berganti dengan fantasi yang membuai dalam kemabukan mereka. Yang tidak kuat lagi malah berupaya mengakhiri hidupnya, seolah dengan berakhirnya hidup berakhir pula segala derita...
Berbagai macam cara dan upaya orang lakukan untuk mencari “makhluk” yang satu ini. Bahkan, segala gaya hidup dan tindakan orang sebenarnya didasari oleh tujuan ini. Intinya, bagaimana ia mempersepsikan bahagia, maka begitulah ia akan berbuat untuk mencapainya...
Orang yang berpikir bahwa kebahagian adalah pada harta, maka ia akan berupaya apa saja untuk menggapai harta. Orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan ada pada cinta dan perhatian sang kekasih, maka ia akan berupaya mencari cinta dan perhatian dari sang kekasih. Orang yang merasakan bahagia pada ilmu, maka ia akan terus bergelut dengan dunia ilmiyah...
Jadi, pertanyaan: “di manakah bahagia itu?” telah terjawab. Ternyata ia tidak jauh. Ia tidak ada di mana-mana. Ia ada dalam diri kita sendiri...
Apa yang kita HARAPKAN? Itulah yang akan menjawab kebahagian kita. Jadi, sebenarnya masalah ini masih ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumnya: HARAPAN .
Sebagaimana harapan, demikian juga kebahagian: ada kebahagian hakiki dan ada pula kebahagian yang menipu. Kebahagian sejati bagi kaum Muslimin adalah apa yang telah disiapkan oleh Allah di akhirat nanti. Sementara kehidupan dunia ini semuanya hanyalah jalan untuk menggapainya. Orang yang terjebak mengejar kebahagiaan sesaat di dunia ini, pada hakikatnya ia telah tertipu...
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Q.S. 3:185)
Semoga kita tidak tertipu HARAPAN kosong... semoga kita tidak tertipu dengan KEBAHAGIAN yang sementara
BAHAGIA
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 10:49 1 komentar
Label: Tsaqofah
05 Januari 2010
HARAPAN
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui, (Q.S.39:39)
Ustadz Zainal Muttaqin (Mantan Pimpinan Redaksi SABILI) pernah memberikan kami tausiyah. Begini kira-kira intinya:
Tanda kehidupan adalah adanya gerak. Dari sel tubuh kita yang paling kecil hingga tata surya yang begitu besar, semunya bergerak. Kita hidup harus bergerak, bekerja dan terus berkarya. Karena itulah tandanya kita hidup. Diam justru akan mendatangkan penyakit, bahkan bisa menjadi sumber penyakit. Ibarat air, air yang diam dan tergenang gampang menjadi sarang penyakit.
Saya kemudian merenung... lalu apa yang mendorong (roh) gerakan tersebut? Suatu yang membedakan manusia yang berakal dengan makhluk lain adalah bahwa aktifitas manusia digerakkan oleh adanya harapan.
Aktifitas yang didorong oleh harapan ini melahirkan beraneka budaya dan keindahan, aturan dan tata krama. Berbeda dengan aktifitas yang semata didorong oleh insting. Insting hanya menuntut terpenuhinya keinginan tanpa peduli akibatnya. Insting lapar membawa orang untuk makan. Namun harapan untuk memperoleh nilai manfaat dari makanan serta dampak yang akan ditimbulkan olehnya membuat orang selektif dalam memilih apa yang perlu dan boleh dimakan.
Harapan, atau sering juga disebut nawaitu (niat) dalam aktifitas memang sangat berpengaruh pada kualitas suatu aktifitas.
Baik Muslim maupun bukan, semuanya punya harapan dalam setiap aktifitas mereka... bahkan seorang atheis-pun punya harapan dalam hidupnya. Namun harapan itu adakalanya palsu dan menipu, sebagaimana harapannya orang-orang kafir itu.
Allah berfirman:
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلا فِي ضَلالٍ
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, Padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Q.S.13:14)
Suatu yang medorong seorang Muslim semangat dalam beraktifitas, adalah adanya harapan yang kuat ini. Semakin kuat harapannya, semakin semangat ia dalam berupaya, sehingga hal itu mampu melupakan sakitnya dalam berupaya mencapai harapan...
وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S.4:104)
=> Teruslah beramal, dan hanya pada-Nya kita berharap dariamalan tersebut
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (Q.S. 94:7)
HARAPAN
Diposkan oleh M. Abdul Aziz, S.Sy. pada Jam 11:44 0 komentar
Label: Tsaqofah